Mati Lampu

>> Selasa, 11 November 2008

Mati lampu adalah hal yang biasa ditempatku. Saking biasanya masing-masing KK memiliki Jenset pribadi. Kecuali keluargaku. Keluargaku adalah keluarga konservatif yang masih doyan pakai lampu minyak goreng. Kelihatan kuno sekali tapi lebih terkesan romantis.

Pakai lilin? Dulu keluarga kami juga memakai lilin. Karena sifat lilin yang cpat habis, mudah jatuh dan sering patah membuat keluargaku beralih pada alternatif yang lebih aman.

Awalnya dari sebuah mangkuk souvenir pernikahan. Mangkuk itu teramat kecil sampai dibuat kobokan juga maksa. Kami sekeluarga berkumpul memandang mangkuk kecil itu. Buat apa ya nich mangkuk? Koq dikasih mangkuk sich? Koq gak gede sekalian sich? Aneh. Mangkuk itu diputer-puter. Saat itu aku teringat lilin yang ditaruh didalam mangkuk yang baunya harum. Aku punya ide untuk membuat lilin seperti itu. Tapi kaya'nya gak bertahan lama, setelah itu mangkuk bisa dibuang. Sayang kan?

Berangkat dari ide awalku. bapakku ingin membuat lilin juga namun dengan versi India. Tahukan lampu yang buat sembahyang itu. Dari situ bapakku menaruh minyak goreng ke dalam lampu dan membuat suatu sumbu dan ujung sumbunya disematkan di tutup botol yang sudah dilubangi. Atau kalau mau yang lebih bagus pakai cetakan kue semprit. Yang bentuknya kerucut trus ujungnya dipotong itu lho! Tahukan? Nah jadilah lampu minyak goreng.

Lampu minyak goreng ini awet nyalanya, mudah buatnya, n klo minyaknya udah abis ya diisi lagi. Klo sumbunya kurang oke ya diganti. Selain itu dengan mangkuk kaca terangnya jadi lebih terang. Romantis kan?

0 comments:

Saat dunia mulai menghimpit hatimu, haruskah kau menyerah?

Translator

  © Blogger template Sunset by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP