Niat Syek Puji yang Kontroversial

>> Selasa, 04 November 2008

Weleh-weleh kenal Syek Puji ? Itu lho seorang ustadz yang menikahi bocah umur 12 tahun di Semarang.

Jadi apakah tindakan Syek Puji bisa dibenarkan dalam Islam?  Yah, untuk pertama-tama saya mengucapkan terima kasih pada Syek Puji karena telah membuat sensasinya. Karena kalau tidak dengan kejadian seperti ini, kita sebagai seorang Muslim tidak merasa perlu untuk menelitik lebih jauh mengenai pernikahan khususnya pernikahan nabi. Sebenarnya sebagai Muslim yang baik, kita harus terus mengkaji lebih bijak apa-apa saja yang terkandung dalam Al-Qur'an dan Hadist sebagai arah petunjuk kita dalam hidup ini.

Pernikahan Syek Puji yang menikahi anak 12 tahun sebenarnya hal yang biasa dalam masyarakat Islam. Bahkan ada orang yang menikahkan anak mereka yang berusia 7 dan 4 tahun. Namun, apakah kebiasaan menikahi anak dibawah umur merupakan hal yang betul-betul biasa? jika memang begitu sejak kapan? Apakah sejak tahu Hadist yang mengatakan Rasullulah menikahi Aisyah saat berumur 7 tahun? Sehingga hal itu menjadi biasa dan bahkan budaya?

Jika memang alasannya hanya mengikuti perilaku Nabi yang tercantum dalam Hadist, tentunya hadist ini perlu diteliti kebenarannya terlebih dahulu sebelum mencontohnya.  Kebanyakan kita suka mencontoh mentah-mentah perilaku nabi yang tercantum dalam hadist  tanpa penelitian secara pasti kebenaran sebuah Hadist. Tanpa ingin menimbang-nimbang baik atau buruknya, ataupun cocok atau tidak kasus ini pada masa kini dengan masa yang sekarang. Perlu diingat, tidak semua hadist mengandung kebenaran mutlak. Karena sifatnya yang berasal dari riwayat orang-orang terdekat yang disampaikan ke masyarakat banyak, yang pada saat itu disampaikan dari mulut kemulut. Sehingga masih perlu penelitian lebih lanjut mengenai kepastian isi dari suatu riwayat hadist.

Berbeda dengan sifat Al-Quran yang isinya bersifat mutlak kebenaranya. Dan sifat nilai ilmunya yang tak lekang dimakan massa. Bahkan apa yang tercantum didalamnya dapat membantu manusia untuk memudahkan hidupnya di dunia. Jika saja ia mampu berfikir.

Karena saya sadar betul dengan keterbatasan saya dalam mengkaji kebenaran ini, maka saya berinisiatif untuk mencari penjelasan dari pihak yang saya anggap sudah meneliti hal ini sejak lama. Dan saya setuju dengan apa yang tertulis didalam ini http://forum.swaramuslim.net/more.php?id=3704_0_26_0_M

Saya sebenarnya prihatin dengan segala sesuatu yang mencontoh "sunah Rosul" ini. Terkadang saya sebel sendiri dengan orang yang suka mengatasnamakan sunah Rosul padahal yang wajib juga belum tentu bisa dilaksanakan dengan baik. Sebagai seorang muslim, memang kita perlu mencontoh beliau. Hanya saja terkadang orang lebih suka mencontoh yang terlihat enak dibandingkan yang gak enaknya.

Seperti syek puji ini, kenapa dia lebih suka menikahi anak gadis dibandingkan para janda atau perawan tua. Buat apa menikahi gadis yang masih memiliki perlindungan dari orang tuanya? Bukankah para janda dan perawan tua juga lebih banyak membutuhkan perlindungan seorang laki-laki? Tidakkah Syek Puji berfikir? Dan ini juga termasuk sunnah rosul lho! Bahkan menjadi ayah dari anak yatim pahalanya jauh lebih besar.

Ya, setidaknya sebagai seorang muslim kita menjadi sadar sepenuhnya bahwa Ilmu pengetahuan itu perlu, penelitian tentang agama itu perlu. Kita dulu memandang agama kita hanya sebagai agama, padahal begitu banyak pengetahuan didalamnya. Yang membuat manusia menjadi lebih bijak dan memanusiakan manusia dengan segala kearifan ilmu_Nya. Kenapa baru sadar sekarang yah? Apakah karena kita terlalu sombong, atau bahkan memikirkan sesuatu yang sebenarnya tidak terlalu penting?

0 comments:

Saat dunia mulai menghimpit hatimu, haruskah kau menyerah?

Translator

  © Blogger template Sunset by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP